Kondisi China sedang parah dan dapat menyulut Krisis Dunia

Kondisi China sedang parah dan mungkin dapat menyulut krisis dunia
image

Mata masyarakat dan investor dunia kini tertuju pada drama bangkrutnya Yunani. Namun, investor seharusnya lebih khawatir dengan apa yang terjadi di negara dengan penduduk sekitar 1,4 miliar orang dengan PDB terbesar kedua dunia, yaitu China.

Pasar saham China mulai dari The Shanghai Stock Exchange Composite Index dan Shenzhen Stock Exchange Composite Index merosot tajam mencapai 30 persen dari angka tertingginya. Ini terjadi karena kekhawatiran investor pada saham perusahaan China yang sedang mengalami gelembung atau bubble. Pemerintah China bahkan telah mengeluarkan beberapa kebijakan untuk mengurangi anjloknya pasar saham. Namun ini malah balik menyerang pemerintah sendiri.

Regulator pada hari Minggu mengatakan bahwa mereka akan menyediakan lebih banyak modal untuk entitas dan memungkinkan pinjam uang untuk membeli margin lebih atau praktik meminjam uang untuk membeli saham. Membeli margin ini sangat berisiko.

Para ahli menyebut, naiknya pasar saham China pada awal tahun ini disebabkan karena banyaknya investor membeli saham dengan utang. Dan, ketika saham pertama mulai jatuh bulan lalu, banyak investor menjual saham mereka dengan cepat untuk membayar utang. Hal ini menjadi pemicu merosot tajamnya pasar saham China.

Bahkan kondisi ini diperkirakan bisa lebih buruk karena investor menyadari bahwa perlambatan ekonomi China mengikis keuntungan perusahaan.

“Pasar saham China tidak didukung oleh fundamental negara. Sebaliknya, pasar sedang diangkat oleh pinjaman pemerintah dan manipulasi,” ucap pendiri Pento Portofolio Strategies, Michael Pento seperti dilansir dari CNN di Jakarta, Selasa (7/7/15).

A stock investor sits in front of an electronic screen showing stock price at a brokerage house in Beijing

July 7, 2015 2:42 pm

China stocks fall in defiance of Beijing’s support efforts

Penyelamatan pasar saham juga dilakukan oleh broker China dengan membeli saham di Shanghai Composite. Namun hal ini diyakini akan menimbulkan masalah baru.

Asisten profesor bidang keuangan dari Warwick Business School di Inggris, Lei Mao mengaku khawatir dengan kebijakan pemerintah China yang dapat menggembungkan nilai perusahaan besar dengan mengorbankan banyak perusahaan kecil. Kebijakan pemerintah terbukti tidak terlalu efektif, hal ini dilihat dari Shanghai Composite yang hanya mampu naik tidak lebih dari 2 persen. Sedangkan Shenzen Composite tetap turun hampir 3 persen.

Pasar saham China tenggelam dengan cepat beberapa waktu terakhir. Apakah ini pertanda krisis ekonomi dan kekacauan seperti 2008?

China saat ini adalah mitra dagang terbesar kedua bagi Eropa dan Amerika Serikat. Selain itu, China adalah adalah salah satu konsumen komoditas terbesar dunia. Penurunan harga saham tentu akan mempengaruhi ekonomi dunia secara langsung.

Harga minyak dunia turun pada hari Senin kemarin dan banyak yang menyalahkan Yunani dan penurunan nilai tukar Euro. Tidak banyak yang berpikir kalau kondisi ini terjadi karena pengaruh kondisi di China.

“Lihatlah cerita yang ditulis tentang penurunan harga minyak dunia saat ini, dan mereka akan berbicara tentang bagaimana permintaan minyak turun di Yunani. Saya harus berpikir lagi, ini permintaan Yunani? menurut saya permintaan China,” ucap Direktur EverBank Global markets, Chuck Butler dalam laporannya.

https://i1.wp.com/cdn0-a.production.liputan6.static6.com/medias/797540/big/049658300_1421663904-ilustrasi-BBM-aji-150119-2.jpg

Melihat kondisi China saat ini, menurut Chuck, Anda bisa mengabaikan Yunani seutuhnya. Jangan terlalu terjebak dengan berita di Eropa. China lebih berpengaruh pada ekonomi global dan bisa menyulut krisis !

Bank Indonesia mewaspadai dampak penurunan harga saham di bursa Cina terhadap Indonesia karena negara itu adalah pendorong pertumbuhan ekonomi dunia dan salah satu mitra utama perdagangan Indonesia.

“Kita harus antisipasi karena Cina jadi pusat pertumbuhan ekonomi regional dan dunia. Kalau koreksinya tajam itu bisa ada dampak dan harus diantisipasi karena ada risiko interconnected antara negara,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo di Jakarta, Rabu malam.

Agus mengatakan, pertumbuhan pasar modal di Tiongkok sangat mengagumkan dan bisa dikatakan tumbuh sudah sangat tinggi sehingga apabila tergerus sampai 30 persen sejak 12 Juni 2015 lalu, jika dibandingkan pertumbuhan selama setahun terakhir, relatif akan masih tinggi.

Namun, lanjut Agus, yang perlu diperhatikan adalah dampaknya kepada pertumbuhan ekonomi Cina itu sendiri karena akan berpengaruh besar terhadap Indonesia dan dunia seperti ditunjukkan dengan melemahnya harga komoditas dunia karena menurunnya permintaan dari Tiongkok.

“Kalau sekarang terjadi koreksi bahkan bila ada kebijakan menahan harga saham dibeli dan di-hold (ditahan) setahun ternyata tetap koreksi, kita waspadai ini. Ekonomi Cina sangat dekat dengan ekonomi Indonesia, kita mesti waspadai kalau ada perlambatan ekonomi Tiongkok,” ujar Agus.

Agus masih optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia akan lebih baik pada semester dua mendatang, namun kondisi ekonomi Cina perlu lebih diperhatikan.

“Studi kita kalau pertumbuhan ekonomi Cina sampai tergerus 1 persen, dampak ke pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa 0,4-0,6 persen. Jadi kita betul-betul harus perhatikan,” kata Agus.

Harga saham di Cina terus anjlok pada Rabu (8/7) lalu. Indeks Harga Saham Gabung Shanghai turun hampir 7 persen dan indeks harga saham gabungan Shenzhen turun 4 persen.
image
Berjaga-jagalah dan berharaplah pada Tuhan Yesus !

Advertisements