SIKAP YANG BENAR -TAKUT AKAN TUHAN

Takut akan Tuhan – Fear of GOD

Saya akan memulai artikel ini untuk memberikan penjelasan mengenai pentingnya “Takut akan Tuhan” karena sudah mulai memudar di saat-saat ini dan ingin menjawab para pembaca artikel berjagajaga.wordpress.com yang masih berkata,”buat apa semua artikel akhir jaman ini ? Hanya buat takut-takutin orang ? Bukannya kita anak Tuhan harus hidup damai sejahtera alias aman-aman aja ?” Playing safe ! Pengangkatan masih lama dan sebagainya…

Tujuan dari semua artikel ini adalah untuk membuat kita mengetahui keadaan jaman, saat kita tahu apa yang sedang terjadi dengan dunia, maka kita akan tahu bagaimana kita harus bersikap… apakah semakin mendekat pada Tuhan atau semakin menjauh dan memiliki kebebasan dalam hidup.. karena saat-saat ini sedang disodorkan berkat atau kutuk…. pilihlah berkat !  Dan biarlah diri kita terpacu untuk lebih intim dengan Tuhan dan semakin mencari hadiratNya vanyak melakukan doa, pujian dan penyembahan, banyak masuk menara doa agar kita berkenan menjadi MempelaiNya yang kudus dan tak bercacat cela, serta berbalik dari jalan-jalan kita yang jahat… menjadi manusia baru yang dipenuhi janji-janji Allah dan kekudusan yang murni… tanpa motivasi dan tanpa agenda…. it’s all about Jesus…

Karena itu saya akan mengetengahkan banyak ayat Alkitab yang merujuk kepada takut akan Tuhan serta janji-janji Tuhan yang berhubungan dengannya. Bacalah dengan saksama:

Mazmur 34:9
“Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang-Nya yang kudus, sebab tidak kekurangan orang yang takut akan Dia!”

Mazmur 34:7
“Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka.”

Mazmur 112:1-2
“Haleluya! Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya, Anak cucunya akan perkasa di bumi; angkatan orang benar akan diberkati.”

Mazmur 25:12
“Siapakah orang yang takut akan TUHAN? Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya.”

Mazmur 25:14
“TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka.”

Mazmur 31:19
“Alangkah limpahnya kebaikan-Mu yang telah Kausimpan bagi orangyang takut akan Engkau, yang telah Kaulakukan bagi orang yang berlindung pada-Mu, di hadapan manusia!

Mazmur 33:18
“Sesungguhnya, mata TUHAN tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setia-Nya,

Mazmur 85:9
“Sesungguhnya keselamatan dari pada-Nya dekat pada orang-orangyang takut akan Dia, sehingga kemuliaan diam di negeri kita.”

Mazmur 103:11
“Tetapi setinggi langit di atas bumi, demikian besarnya kasih setia-Nya atas orang-orang yang takut akan Dia”

Mazmur 103:13
“Seperti bapa sayang kepada anak-anaknya, demikian TUHAN sayang kepada orang-orang yang takut akan Dia.”

Mazmur 103:17
“Tetapi kasih setia TUHAN dari selama-lamanya sampai selama-lamanya atas orang-orang yang takut akan Dia, dan keadilan-Nya bagi anak cucu,”

Mazmur 111:4-5
“Perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib dijadikan-Nya peringatan; TUHAN itu pengasih dan penyayang. Diberikan-Nya rezeki kepada orang-orang yang takut akan Dia. Ia ingat untuk selama-lamanya akan perjanjian-Nya.”

Mazmur 115:13
“[Ia]memberkati orang-orang yang takut akan TUHAN, baik yang kecil maupun yang besar.

Mazmur 128:1-4
“Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya! Apabila engkau memakan hasil jerih payah tanganmu, berbahagialah engkau dan baiklah keadaanmu! Isterimu akan menjadi seperti pohon anggur yang subur di dalam rumahmu; anak-anakmu seperti tunas pohon zaitun sekeliling mejamu! Sesungguhnya demikianlah akan diberkati orang laki-laki yang takut akan TUHAN.”

Mazmur 145:19
“ Ia melakukan kehendak orang-orang yang takut akan Dia, mendengarkan teriak mereka minta tolong dan menyelamatkan mereka.”

Amsal 10:27
“Takut akan TUHAN memperpanjang umur”

Amsal 14:26
“Dalam takut akan TUHAN ada ketenteraman yang besar, bahkan ada perlindungan bagi anak-anak-Nya.”

Amsal 14:27
“Takut akan TUHAN adalah sumber kehidupan sehingga orang terhindar dari jerat maut.”

Amsal 15:33
“Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan.”

Amsal 16:6
“Dengan kasih dan kesetiaan, kesalahan diampuni, karena takut akan TUHAN orang menjauhi kejahatan.”

Amsal 19:23
“Takut akan Allah mendatangkan hidup, maka orang bermalam dengan puas, tanpa ditimpa malapetaka.”

Amsal 22:4
“Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan dan kehidupan.”

Amsal 23:17
“Janganlah hatimu iri kepada orang-orang yang berdosa, tetapitakutlah akan TUHAN senantiasa.”

Pengkhotbah 8:12-13
“Walaupun orang yang berdosa dan yang berbuat jahat seratus kali hidup lama, namun aku tahu, bahwa orang yang takut akan Allah akan beroleh kebahagiaan, sebab mereka takut terhadap hadirat-Nya. Tetapi orang yang fasik tidak akan beroleh kebahagiaan dan seperti bayang-bayang ia tidak akan panjang umur, karena ia tidak takut terhadap hadirat Allah.

Pengkhotbah 12:13
“Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.”

Saya percaya melalui ayat-ayat di atas, jelaslah bahwa apa yang akan kita pelajari sekarang adalah topik pembahasan yang sangat penting. Apakah arti takut akan Tuhan sehingga kepada orang-orang yang melakukannya diberikan begitu banyak janji? Apa arti “takut akan Tuhan” sesungguhnya? Apakah perasaan takut, atau ngeri akan gagasan tentang Tuhan? Apakah subjek “takut akan Tuhan” ini sudah tidak berlaku pada zaman ini karena sekarang kita adalah anak-anak Tuhan? Lebih jauh lagi, bukankah surat 1 Yohanes mengatakan bahwa di dalam kasih tidak ada ketakutan? Bila demikian, mungkinkah “takut akan Tuhan” hanya berlaku pada zaman Perjanjian Lama? Tujuan artikel ini adalah untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas.

1. Takut akan Tuhan: bukan perasaan hormat yang sepele, bukan pula sebuah ketakutan

Bergantung pada latar belakangnya, ada orang-orang yang menganggap takut akan Tuhan adalah semacam perasaan ngeri atau ketakutan terhadap Tuhan. Yang lain menganggapnya sebagai perasaan hormat yang sepele, seperti rasa hormat yang misalnya mereka tunjukkan kepada kolega. Ada juga orang yang sama sekali tidak mengerti apa itu takut akan Tuhan karena menganggap hal itu tidak lagi relevan untuk zaman sekarang yang merupakan zaman anugerah. Semua cara pandang itu tidak benar !
Kita mulai dari perasaan hormat yang sepele: rasa hormat yang ada di antara dua makhluk yang setara tidak sama dengan rasa hormat terhadap Yang Maha Tinggi. Dalam sebuah kerajaan, seseorang tidak menghormati rajanya dengan cara yang sama seperti ia menghormati rekan kerjanya. Bahkan, sekalipun ia telah memiliki keberanian penuh di hadapan takhta raja, sebagaimana kita, yang melalui darah Kristus telah memiliki keberanian di hadapan takhta Allah, bahkan seandainya pun ia adalah seorang anak Raja, sebagaimana kita melalui iman, tetap saja ia hanyalah sebuah subjek di hadapan Raja. Kepada semua Raja, apalagi Raja di atas segala raja, penghormatan penuh wajib kita berikan. Dengan kata lain, fakta bahwa kita adalah anak Raja bukan berarti kita boleh menghampiri Raja tanpa disertai rasa hormat yang mendalam terhadap-Nya, yang adalah Allah Yang Maha Tinggi; juga jangan menghampiri-Nya dengan rasa hormat seadanya, seperti rasa hormat terhadap orang lain yang setara dengan kita.

Di sisi lain, seorang anak raja tidak akan menghadap raja dengan cara yang sama seperti seorang asing lakukan. Seorang anak raja akan menghampiri raja bukan dengan perasaan ngeri atau ketakutan, melainkan dengan keberanian dan keyakinan, karena tahu bahwa Dia adalah Bapanya yang Penuh Kasih.
Pada saat yang sama, seperti yang telah dipaparkan di atas, ia juga harus menghampiri raja dengan rasa hormat yang mendalam karena mengerti bahwa ia bukan sedang menghadapi rekannya melainkan Bapa, yang adalah Allah yang Maha Tinggi, Tuhan di atas segala tuhan dan Raja di atas segala raja. Dengan kata lain, fakta bahwa kita adalah anak Raja, seharusnya membuat kita mengerti bahwa makna takut akan Tuhan di sini tidak seharusnya dimengerti sebagai sebuah teror, semacam perasaan ketakutan kepada Raja. Justru, takut akan Tuhan seharusnya dimengerti sebagai rasa hormat yang sangat dalam, rasa hormat tertinggi yang selayaknya diberikan seorang anak kepada Bapa yang teramat dikasihinya, yang juga merupakan Pencipta Segala Sesuatu, Allah Yang Maha Tinggi.

Setelah penjelasan di atas, mari kita melihat beberapa ayat yang memaparkan tentang keagungan Allah dan ayat-ayat yang berhubungan dengan takut akan Tuhan. Saya menggunakan ayat-ayat ini untuk menunjukkan keagungan dan kebesaran Allah dan bukan untuk menganjurkan agar orang-orang kristiani menghampiri Allah dengan perasaan ngeri atau ketakutan. Seperti yang telah dijelaskan di atas dan seperti yang akan lihat lebih jauh, takut akan Tuhan bukan berarti ketakutan kepada Tuhan. Saya percaya di zaman kita sekarang, di mana Yesus Kristus telah menjembatani keterpisahan antara Allah dan manusia, takut akan Tuhan berarti kita menghampiri Dia seperti seorang anak menghampiri Bapa (dengan keberanian dan tanpa rasa takut kepada-Nya) dan sebagai seorang yang menghadap Allah Yang Maha Tinggi (dengan rasa hormat terdalam). Mari kita memulai dari Yeremia 10:6-7:

Yeremia 10:6-7
“Tidak ada yang sama seperti Engkau, ya TUHAN! Engkau besar dan nama-Mu besar oleh keperkasaan. Siapakah yang tidak takut kepada-Mu, ya Raja bangsa-bangsa?”

dan Wahyu 15:4
“Siapakah yang tidak takut, ya Tuhan, dan yang tidak memuliakan nama-Mu?”

dan Yeremia 5:22-24
“Masakan kamu tidak takut kepada-Ku, demikianlah firman TUHAN, kamu tidak gemetar terhadap Aku? Bukankah Aku yang membuat pantai pasir sebagai perbatasan bagi laut, sebagai perhinggaan tetap yang tidak dapat dilampauinya? Biarpun ia bergelora, ia tidak sanggup, biarpun gelombang-gelombangnya ribut, mereka tidak dapat melampauinya! Tetapi bangsa ini mempunyai hati yang selalu melawan dan memberontak; mereka telah menyimpang dan menghilang. Mereka tidak berkata dalam hatinya: Baiklah kita takut akan TUHAN, Allah kita, yang memberi hujan pada waktunya, hujan pada awal musim maupun hujan pada akhir musim, dan yang menjamin bagi kita minggu-minggu yang tetap untuk panen.

Mazmur 33:6-9
“Oleh firman TUHAN langit telah dijadikan, oleh nafas dari mulut-Nya segala tentaranya. Ia mengumpulkan air laut seperti dalam bendungan, Ia menaruh samudera raya ke dalam wadah. Biarlah segenap bumi takut kepada TUHAN, biarlah semua penduduk dunia gentar terhadap Dia! Sebab Dia berfirman, maka semuanya jadi; Dia memberi perintah, maka semuanya ada.”

ALLAH MENCIPTAKAN KITA DAN SELURUH ALAM SEMESTA. SEGALA SESUATU BAIK YANG TERLIHAT MAUPUN TIDAK, DICIPTAKAN OLEH ALLAH SENDIRI. Dia adalah Bapa kita dan Tuhan kita. Dia adalah Allah Yang Maha Tinggi. Pengetahuan akan Firman Tuhan tanpa disertai rasa takut serta hormat mendalam terhadap keagungan Allah hanya akan menjadi pengetahuan di otak saja dan membuat orang menjadi sombong (1 Korintus 8:1). Sebagaimana yang Amsal katakan:

Amsal 2:1-5
“Hai anakku, jikalau engkau menerima perkataanku dan menyimpan perintahku di dalam hatimu, sehingga telingamu memperhatikan hikmat, dan engkau mencenderungkan hatimu kepada kepandaian, ya, jikalau engkau berseru kepada pengertian, dan menujukan suaramu kepada kepandaian, jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah.”

Hanya bila Firman Tuhan tinggal di dalam kita, dan menjadi bagian dari hati kita, barulah kita akan mengerti tentang takut akan Tuhan. Lebih jauh lagi, bila kita tidak memiliki rasa hormat yang dalam terhadap Yang Maha Tinggi, maka pengetahuan apa pun yang kita miliki tentang Kitab Suci, bilamana tidak disimpan dalam hati kita atau hanya sekadar pengetahuan di kepala saja, tidak akan menghasilkan buah dan pada akhirnya hanya akan memimpin kepada kesombongan.

2. Keberanian dan takut akan Tuhan dalam Perjanjian Baru

Sebuah cara pandang yang dianut oleh beberapa orang baik secara implisit maupun eksplisit tentang takut akan Tuhan adalah bahwa takut akan Tuhan tidak diperlukan lagi setelah karya penebusan Tuhan Yesus Kristus. Namun, hal itu tidak benar ! Berikut ini beberapa bagian dalam Perjanjian Baru yang berbicara tentang takut akan Tuhan:

Kisah Para Rasul 9:31
“Selama beberapa waktu jemaat di seluruh Yudea, Galilea dan Samaria berada dalam keadaan damai. Jemaat itu dibangun dan hidup DALAM TAKUT AKAN TUHAN. Jumlahnya makin bertambah besar oleh pertolongan dan penghiburan Roh Kudus.”

I Petrus 2:17
“Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, TAKUTLAH AKAN ALLAH.”

II Korintus 7:1
“Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita DALAM TAKUT AKAN ALLAH.”

Kolose 3:22
“Hai hamba-hamba, taatilah tuanmu yang di dunia ini dalam segala hal, jangan hanya di hadapan mereka saja untuk menyenangkan mereka, melainkan dengan tulus hati karena TAKUT AKAN TUHAN.”

Kornelius, orang bukan Yahudi pertama, yang rumahnya dipakai untuk pengabaran Injil, adalah seorang yang takut akan Tuhan, sebagaimana yang dikatakan dalam Kisah Para Rasul 10:1-2:

Kisah Para Rasul 10:1-2
“Di Kaisarea ada seorang yang bernama Kornelius, seorang perwira pasukan yang disebut pasukan Italia. Ia saleh, ia serta seisi rumahnya TAKUT AKAN ALLAH dan ia memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah.

dan sebagaimana yang Petrus katakan dalam Kisah Para Rasul 10:34-35

Kisah Para Rasul 10:34-35
“Lalu mulailah Petrus berbicara, katanya: “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. SETIAP ORANG DARI BANGSA MANAPUN YANG TAKUT AKAN DIA DAN YANG MENGAMALKAN KEBENARAN BERKENAN KEPADA-NYA.”

Seperti yang kita baca, takut akan Tuhan terdapat juga di dalam Perjanjian Baru. Namun pada saat yang sama, saya berpikir – sebagaimana yang saya paparkan di atas – bahwa ada perbedaan sangat besar antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.
Oleh karena karya penebusan Tuhan Yesus Kristus, sekarang kita memiliki jenis relasi yang sangat berbeda dengan Allah. Jenis relasi yang berbeda ini harus menjadi bahan pertimbangan tatkala kita mencoba memahami arti takut akan Tuhan.
Melalui contoh yang telah kita gunakan di atas, dalam sebuah kerajaan terdapat perbedaan sangat besar antara orang luar dan anak Raja. Orang luar dan anak tidak menghampiri Raja dengan cara yang sama. Orang luar mungkin menghampiri Raja dengan perasaan ngeri akan keagungan-Nya atau karena ia tidak mempunyai relasi dengan Raja selain ia sebagai sebuah subjek saja. Berbeda dengan anak. Anak menghampiri Bapa dengan keberanian, tanpa merasa takut kepada-Nya, seperti seperti anak kecil yang menghampiri Bapanya yang penuh kasih. Inilah pula yang Kitab Suci katakan tentang bagaimana kita seharusnya menghampiri takhta Allah:

Ibrani 4:14-16
“Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita. Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa. Sebab itu marilah kita dengan penuh keberanian menghampiri takhta kasih karunia, supaya kita menerima rahmat dan menemukan kasih karunia untuk mendapat pertolongan kita pada waktunya.”

Kita menghampiri takhta kasih karunia dengan penuh keberanian. Ini bukan karena kehebatan kita, tetapi karena Tuhan Yesus Kristus, yang telah menjembatani keterpisahan antara kita dengan Allah, sehingga semua orang yang percaya bahwa Yesus Kristus adalah Anak Allah dapat menjadi anak-anak Allah (1 Yohanes 5:1). Seperti juga yang dikatakan dalam 1 Yohanes 4:18-19:

“Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih. Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita.”

Bila kita mengasihi Allah, kita tidak akan ketakutan terhadap-Nya karena ketakutan dan kasih tidak dapat berjalan seiring. Namun, sekali lagi, kita pun tidak boleh menghampiri Allah dengan sikap yang sama seperti kita menghampiri sesama, yang mungkin hanya dengan sedikit saja rasa hormat, juga jangan menghampiri Allah tanpa menyadari akan keagungan-Nya. Sekali lagi, janganlah menghampiri Allah dengan ketakutan. Bila kita datang kepada-Nya dengan ketakutan maka kita tidak mengasihi Dia sebagaimana seharusnya, karena di dalam kasih tidak ada ketakutan. Jadi, seperti yang kita telah bahas, takut akan Tuhan berarti kita menghampiri-Nya seperti seorang anak menghampiri Bapanya (dengan keberanian, tanpa rasa takut) dan dengan kesadaran bahwa Dia adalah Allah Yang Maha Tinggi (dengan segenap rasa hormat).

3. Takut akan Tuhan: melakukan kehendak-Nya

ila kita renungkan pembahasan di atas lebih lanjut, bagaimanakah mungkin seseorang dapat berjalan di dalam kehendak Tuhan apabila ia tidak takut akan Tuhan dan bagaimana mungkin seseorang takut akan Tuhan bilamana ia tidak melakukan kehendak-Nya. Maka, takut akan Tuhan berarti melakukan kehendak-Nya; berarti pula kita mau mengambil sebuah langkah iman untuk melakukan apa yang Tuhan katakan bahkan ketika kita tidak mengerti apa yang akan terjadi atau ketika kita belum dapat melihat gambaran utuhnya.
Mereka yang takut akan Tuhan pasti rindu melakukan kehendak Tuhan. Apa pun yang Bapa katakan, bagi mereka adalah sesuatu yang paling bernilai dan sesuatu yang tidak bisa ditawar-tawar oleh karena perkataan itu berasal dari mulut Bapa sendiri. Jadi, takut akan Tuhan; hormat yang mendalam kepada Tuhan dan kehendak-Nya; serta ketaatan kepada Tuhan dan kehendak-Nya berjalan beriringan satu dengan yang lain. Karena, di dalam sebuah keluarga apabila anak-anak tidak mau mematuhi ayahnya, bukankah berarti mereka pun tidak menghormatinya? Mungkin mereka menghampiri Bapa hanya untuk memperoleh sesuatu dari-Nya, dan bukan karena mereka sungguh-sungguh mengasihi atau menghormati-Nya.
Seandainya mereka mengasihi-Nya, mereka akan menyimpan kehendak-Nya di dalam hati mereka dan melakukan kehendak-Nya itu. Sayangnya, ada banyak orang kristiani seperti ini: mereka menghampiri Tuhan hanya ketika membutuhkan sesuatu sembari menjalani kehidupan di dunia ini sama seperti yang dunia lakukan. Jelas sekali sikap seperti ini harus berubah. Daripada menghampiri Tuhan dengan sikap seperti itu, seharusnyalah kita memperdalam relasi kita dengan Tuhan, mencari dahulu Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, dan semuanya itu akan ditambahkan kepada kita (Matius 6:33). Sebagaimana Filipi 2:5-11 katakan tentang Tuhan Yesus Kristus yang adalah teladan bagi kita:

Filipi 2:5-11
“Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan,” bagi kemuliaan Allah, Bapa!”

Alkitab menasihatkan agar kita memiliki pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Tuhan Yesus Kristus. Pikiran dan perasaan seperti apa yang dimaksud? Pikiran dan perasaan ketaatan, bahkan sampai mati. Pikiran dan perasaan “bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mulah yang terjadi” (Lukas 22:42).

Poin yang ingin saya sampaikan dari pembahasan di atas adalah bahwa kita tidak dapat benar-benar berkata bahwa kita takut akan Tuhan apabila kita tidak melakukan kehendak-Nya. Pada kenyataannya, melakukan kehendak Tuhan adalah sama dengan mengasihi Tuhan. Seperti yang Dia sendiri katakan:

Yohanes 14:23-24
“Jawab Yesus: “Jika seorang mengasihi Aku, ia akan menuruti firman-Ku dan Bapa-Ku akan mengasihi dia dan Kami akan datang kepadanya dan diam bersama-sama dengan dia. Barangsiapa tidak mengasihi Aku, ia tidak menuruti firman-Ku; dan firman yang kamu dengar itu bukanlah dari pada-Ku, melainkan dari Bapa yang mengutus Aku.”

Kita tidak dapat berkata bahwa kita mengasihi Tuhan apabila tidak menuruti firman-Nya. Demikian pula, saya percaya bahwa, kita pun tidak dapat berkata bahwa kita takut akan Tuhan apabila kita tidak melakukan kehendak-Nya.

Jadi, sebagai kesimpulan bagian ini, takut akan Tuhan berarti juga ketaatan kepada Tuhan. Takut akan Tuhan berarti menyimpan dan melakukan kehendak-Nya apa pun yang terjadi. Takut akan Tuhan dalam satu kalimat singkat adalah: berpegang kepada Tuhan dan melakukan kehendak-Nya dengan penghargaan kita yang tertinggi terhadap-Nya.

4. Kesimpulan

Kita memulai artikel ini dengan memperlihatkan berbagai berkat bagi mereka yang takut akan Tuhan. Sungguh sulit menemukan topik lain dalam Alkitab yang mengandung begitu banyak janji: baik umur panjang, kemakmuran, keselamatan dan masih banyak janji lain yang tersedia bagi mereka yang takut akan Tuhan.

Kemudian, kita telah mencoba mendefinisikan apa arti takut akan Tuhan dan mengerti dengan jelas bahwa takut akan Tuhan bukan rasa hormat yang sepele, seperti rasa hormat terhadap orang lain yang setara dengan kita, juga bukan ketakutan atau perasaan ngeri kepada-Nya. Sebaliknya, takut akan Tuhan adalah rasa hormat teramat mendalam yang selayaknya kita persembahkan kepada BAPA, kepada TUHAN, kepada ALLAH, kepada PENCIPTA SEGALA SESUATU.

Akhirnya, kita memahami dengan jelas bahwa tidak ada takut akan Tuhan tanpa melakukan kehendak-Nya. Dengan kata lain, siapa pun yang takut akan Tuhan pastilah melakukan kehendak-Nya. Orang-orang yang tidak takut akan Tuhan tetapi hanya ingin memuaskan keinginan dagingnya, mereka pun pastilah tidak melakukan kehendak-Nya atau melakukannya hanya ketika ingin saja, tergantung bagaimana situasi dan kondisinya.

Untuk menutup artikel ini, mari kita perhatikan petunjuk dari Pengkhotbah berikut ini:

Pengkhotbah 12:13
“Akhir kata dari segala yang didengar ialah: takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang.”

Berjaga-jagalah !

 

Advertisements