DAMPAK NYATA PASSION OF THE CHRIST

image

Apakah Anda mengenal James Caviezel? Dia adalah pemeran Yesus Kristus (Jesus Christ) di dalam film Passion of the Christ. Ada beberapa hal yang saya kagumi dari seorang James Caviezel…

Pertama, dia memiliki integritas di dalam hidupnya. Dia berani menolak sesuatu yang tidak sesuai dengan imannya, meskipun itu berarti menolak uang puluhan juta dollar. Dia adalah seorang bintang Holywood yang langka, satu dari sedikit bintang Holywood yang menolak untuk melakukan love scene (baca: sex scene) di dalam film yang dia perankan. Dia menolak untuk melakukan adegan pornografi, seperti pernyataan yang dia keluarkan pada tahun 2002 berikut ini.

“Staunchly Catholic Hollywood actor Jim Caviezel refused to strip off for a sex scene with beautiful actress Ashley Judd. The 33-year-old star threatened to walk out unless director Carl Franklin shot the scene for thriller High Crimes with both parties wearing clothes. He says, “I told Carl, ‘It’s no problem, I don’t have to do this movie. Go ahead and find someone else.’ I see our culture as not respecting people too much, treating people like objects. There are times where sex is appropriate, but I’ve yet to see butts and breasts act themselves out of a scene!” It’s not the first time Caviezel has refused to get naked for scenes with beautiful co-stars. He refused to film a love scene with sexy Jennifer Lopez in Angel Eyes because she was topless and asked rising star Dagmara Domincyzk to cover her nipples while shooting The Count Of Monte Cristo. The married star says, “My acting stems from inside, from God. And that’s the only way I can act. If I violate that, then I don’t think I’d be around this business much longer.“

Hal ini yang saya kagumi. Dia punya kesempatan untuk melakukan itu, tetapi dia menolaknya, karena integritas pada imannya. Dia rela jika dia harus disingkirkan karena tidak melakukan “perintah” director film tersebut. Seandainya semua bintang film seperti ini, tentunya pornografi akan dapat berkurang, bahkan bukan tidak mungkin dapat hilang!

Selain itu, dia juga tidak gila harta. Dia bahkan menolak tawaran sebesar US$ 75 juta karena tidak sesuai dengan imannya.

Hal ini membawa James Caviezel menerima tawaran yang sangat sulit dari Mel Gibson, yaitu memerankan tokoh utama di dalam filmnya “Passion of The Christ”, yaitu sebagai Yesus Kristus. Satu hal yang unik adalah inisial nama James Caviezel (JC) sama dengan inisial nama Jesus Christ.

Bagaimana beratnya James Caviezel menjalani peran ini dapat dibayangkan melalui kesaksian Caviezel berikut.

Dulunya aku pikir belajar bahasa-bahasa kuno akan menjadi tantangan terberat. Tetapi, ternyata penderitaan fisik jauh lebih berat.

Sejak dari awal, pembuatan film ini merupakan siksaan bagiku dalam segala bentuk. Aku diludahi dan dipukuli. Aku memanggul salibku selama berhari-hari, lagi dan lagi menyusuri jalan-jalan yang sama; tulang bahuku sempat terlepas karena beban salib yang berat. 

Aku tidur empat jam sehari. Pukul 2 pagi aku harus mulai di makeup; aku tak dapat duduk, karena makeup akan lengket di tubuhku. Delapan jam diperlukan untuk mengenakan makeup padaku dan kemudian dua jam diperlukan untuk melepaskan semua makeup itu plus aku harus duduk di bawah pancuran air selama setengah jam agar makeup benar-benar lepas. Juga, karena makeup yang hebat, aku tidak dapat melihat dengan mata kananku, sehingga aku mengalami hyper-focus pada mata kiri. Dengan segala makeup yang menempel di tubuhku, kadang, aku merasa gatal-gatal seperti terbakar di sekujur tubuhku. Mel akan menghampiriku dan bercanda, “Jim, kamu adalah pizza terbesar di seluruh dunia.”

Pengambilan gambar dilakukan di Italia pada musim dingin. Aku tergantung di atas salib, hanya dengan selembar kain penutup pinggang, di tengah udara yang dingin membeku. Aku memandang ke bawah melihat ratusan kru dengan jaket tebal dan syal serta sarung tangan, sementara aku sendiri tak dapat berbuat apa-apa karena tangan-tanganku terikat pada kayu salib. Angin bertiup mengiris-iris tubuhku. Karena dingin yang menggigit, aku menderita hypothermia, yang rasanya seperti menjepitkan seluruh tubuhmu dalam balok es. Sungguh menderita. Aku sulit bernapas, tidak dapat mencerna makanan dengan baik, berat badanku turun drastis dan aku menderita sakit kepala berkepanjangan. Mesin pemanas memang ada, tetapi tidak mungkin didekatkan padaku karena segala makeup itu akan meleleh.

Aku ingat suatu ketika, di atas salib, aku mengeluh kepada Tuhan, “Jadi, apakah Engkau tidak menginginkan film ini dibuat?” Pada akhirnya, aku harus pergi ke tempat yang lebih dalam dari kepalaku, aku harus pergi ke dalam hatiku. Dan satu-satunya cara untuk sampai ke sana adalah dengan doa. Sungguh menyakitkan.

Adegan yang cukup lama di mana Yesus didera dengan cambuk-cambuk besi sungguh mengerikan. Untuk adegan ini Mel telah mengatur supaya ditempatkan suatu papan di punggungku, kira-kira setengah inci tebalnya, agar para prajurit Romawi tidak mengenai punggungku. Tetapi, pukulan salah seorang dari mereka luput, menghantam tepat di punggungku dan merobek kulitku. Aku tidak dapat berteriak, aku tidak dapat bernapas. Pukulan itu begitu menyakitkan hingga seluruh sistem tubuhku tergoncang. Aku jatuh tersungkur dan Mel mengatakan, “Jim, ayo bangun.” Ia tidak tahu bahwa aku sungguh terkena. Cambukan itu meninggalkan luka sepanjang 14 inchi (± 36 cm) di punggungku yang kemudian menjadi contoh untuk ‘membuat’ luka-luka penderaan lainnya. Aku tidak terkena pukulan lagi sesudahnya, tetapi insiden itu menyadarkanku akan bagaimana kira-kira rasanya dicambuk.

Aku menganggap semua penderitaan itu layak untuk memainkan peran Yesus. Peran ini sungguh berarti bagiku. Dengan memerankannya, aku jauh lebih menghayati Jalan Salib. Jalan Salib adalah sengsara Kristus demi umat manusia, demi menebus dosa-dosa kita, demi membawa kita kembali kepada Allah; dan Kasih yang melakukan semuanya.

Ketekunan Caviezel dalam menjalani peran ini sungguh membuat saya kagum. Bagi yang ingin melihat aksi Caviezel dalam film tersebut, dapat melihat foto-foto yang ada di tulisan saya: “Cinta Sejati” / TRUE LOVE.

Apa yang dapat saya teladani dari seorang James Caviezel? Yang dapat saya pelajari adalah integritasnya. Bagaimana dia tidak hanya “sok suci” saat memerankan tokoh yang suci (Jesus Christ), tetapi dia adalah seorang yang beriman teguh dan berintegritas di dalam kehidupannya.

~Wawancara James Caviezel mengenai pembuatan film Passion of The Christ 

image

Advertisements