KEBANGUNAN ROHANI DUNIA SEDANG TERJADI di SELURUH DUNIA

Setelah pencuraan Roh Kudus tgl 20 Mei 2015 kemaren….Ps. Ir. Niko Njotorahardjo satu dari sekian banyak hamba Tuhan menyakini bahwa Roh Kudus SEDANG melanda dunia dan Pencurahan roh kudus besar-besaran sedang dicurahkan ke atas orang-orang yang sungguh-sungguh percaya dan mencari Tuhan dan mereka sangat yakin bahwa sekarang lah WAKTUNYA PENUAIAN JIWA BESAR-BESARAN TERJADI!!!

Mari kita belajar dari beberapa sejarah Kebangunan Rohani yang terkenal di bawah ini dituliskan agar kita belajar bahwa Tuhan masih bekerja sampai sekarang untuk memulihkan umatNya dan berkarya dengan tanda-tanda yang heran dan mujizat yang menakjubkan. Di banyak tempat di belaan dunia ini, bahkan di Indonesia, Tuhan pernah melawat umatNya dengan cara-cara yang heran. Ada yang membawa dampak yang luas sampai mendunia, namun ada yang tidak terdengar, namun Allah melalui Roh KudusNya lah yang melakukan kebangunan rohani di berbagai tempat. Kebangunan rohani ini pernah dialami penulis di satu jemaat kecil di satu kota kecil dimana anak-anak muda diubah menjadi radikal di dalam Tuhan.

Revival di Azusa Street

Pengalaman Roh Kudus yang terjadi di Azusa Street di tahun 1906 sebenarnya bukan hal yang baru. Kisah Para Rasul 2 mencatat peristiwa pencurahan Roh Kudus dan Baptisan Roh Kudus. Kegerakan Pentakosta yang terkenal dengan Azusa Street Revival di mulai di rumah Richard dan Ruth Asbery, 214 Bonnie Brae Street, pada tanggal 9 April 1906 ketika Edward Lee dipenuhi Roh Kudus setelah didoakan oleh William Seymour, dan  kemudian diikuti enam orang lain yang juga mulai berbicara dalam bahasa-bahasa yang baru termasuk Jenny Moore, yang di kemudian hari menjadi isteri William Seymour.

William Joseph Seymour adalah seorang kulit hitam yang menjadi pemimpin gerakan Azusa Street yang lahir di Centerville, Louisiana, 2 Mei 1870. Keluarganya adalah penganut Baptis dan bekas budak, Simon dan Phyllis Seymour. Pada umur 25 tahun, ia pindah ke Indianapolis, bekerja sebagai penjaga rel kereta api dan kemudian sebagai pelayan restoran. Pada masa inilah ia terserang cacar, yang mengakibatkan mata kirinya buta. Tahun 1900 ia pindah ke Cincinnati dan bergabung dengan Church of God. Di sini ia mendalami Teologi Kekudusan yang radikal.

Teologi ini mengajarkan pengudusan sebagai pengalaman pasca pertobatan menuju kekudusan sempurna, kesembuhan ilahi, premilenialisme, dan janji akan pencurahan Roh Kudus di seluruh dunia sebelum terjadinya pengangkatan. Tahun 1903 ia pindah ke Houston, Texas untuk mencari keluarganya dan di sana ia bergabung dengan gereja kecil beraliran kekudusan yang digembalakan oleh seorang wanita kulit hitam, Lucy Farrow. Tidak lama kemudian Farrow memperkenalkannya dengan Charles Fox Parham, seorang pengajar Kekudusan. Murid-murid yang dilayaninya mengalami karunia bahasa lidah (glossolalia) dua tahun sebelumnya. Bagi Parham, itu adalah “bukti Alkitabiah” dari baptisan Roh Kudus. Ketika ia mendirikan Sekolah Alkitab “Apostolic Faith” di Houston, Farrow mendorong Seymour mengikutinya. Sementara itu William Seymour yang justru belum mengalami baptisan Roh Kudus, terus berdoa, dan baru menerima baptisan Roh Kudus beberapa hari kemudian pada tanggal 12 April setelah berdoa sepanjang malam. Mereka berdoa berseru tiga hari tiga malam dan mendapatkan pengalaman Baptisan Roh Kudus yang ditandai dengan bahasa roh.

Berita pencurahan Roh Kudus cepat tersebar sehingga orang-orang berdatangan dari mana-mana sehingga sudah tidak ada tempat lagi untuk mendekati rumah tersebut oleh karena begitu banyaknya orang yang datang, sampai fondasi rumah tersebut ambruk tetapi tidak ada seorangpun yang cedera.

Mereka terus berdoa dan banyak orang-orang yang menerima baptisan Roh Kudus walau sesungguhnya mereka datang hanya untuk melihat apa yang sedang terjadi, juga banyak yang disembuhkan dari berbagai penyakit, dan banyak lagi dari orang-orang yang datang, bertobat menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juru selamat. Dengan begitu cepat rumah di jalan Bonnie Brae nomor 214 tersebut tidak dapat lagi menampung orang-orang yang datang ke tempat itu. Kemudian mereka berpindah di sebuah gedung tua di 312 Azusa Street. Selama tiga tahun mereka mengadakan ibadah tiga kali sehari dari pagi hari sampai malam hari setiap hari. Dan sampai sekarang ini kegerakan Roh Kudus terus terjadi dan tidak lagi hanya menjadi bagian Azusa Street tetapi sampai ke seluruh dunia.

Kebangunan Rohani ini dipimpin oleh seorang bernama Evan Roberts.  Ia seorang penambang batu bara yang masih muda dan dalam usia 25 tahun ia mengawali kebangunan rohani yang dahsyat di Wales Inggris pada tahun 1904. Evan Roberts telah bekerja di tambang batu bara selama 12 jam sehari mulai dari usia 12 tahun. Ketika waktu istrirahat, ia memilih untuk berdoa dan membaca firman Tuhan. Selama 13 tahun Evan Roberts melakukan hal itu, sampai suatu hari, pada tahun 1904 Tuhan mendatangkan urapan kepada Evan sehingga terjadi kegerakan Wales.

Sebenarnya dia tidak memiliki kemampuan berkhotbah. Meskipun buku yang dia kenal hanyalah Alkitab, tapi Firman Tuhan itu membuat rohnya menyala-nyala. Selama bertahun-tahun, dia rindu menyampaikan Firman Tuhan. Suatu hari, Tuhan memberikan pewahyuan kepadanya bahwa akan terjadi kebangunan rohani di Wales. Visi tersebut membakar hatinya dan dia berusaha mencari kesempatan untuk berkhotbah. Meskipun pada awalnya, pendetanya tidak mengijinkan dia berkhotbah, tapi melihat Roberts begitu antusias, akhirnya ia diijinkan juga untuk berkhotbah. 17 orang yang bersedia mendengarkan khotbah Roberts (termasuk Pendetanya), tersentuh hatinya ketika dengan tegas Roberts menyampaikan firman Tuhan:

(1) Anda harus mengakui dosa di hadapan Tuhan

(2) Anda harus menghilangkan kebiasaan yang tidak berkenan di hadapan Tuhan

(3) Anda harus tunduk pada pimpinan Roh Kudus

(4) Anda harus bersaksi tentang Kristus kepada semua orang.

Malam berikutnya, lebih banyak orang yang ingin mendengar khotbah anak muda ini dan api kebangunan rohani menyebar dengan cepat ke seluruh negara itu. Dalam waktu 30 hari, ada 37 ribu orang yang bertobat dan menerima Kristus sebagai Juru selamat pribadi. Hanya dalam waktu 5 bulan, ada 100 ribu orang bertobat. Pengunjung gereja naik 90%, dan  lebih dari 90% dari penduduk Wales “dilahirkan kembali.” Di Inggris, diperkirakan ada sekitar 2 juta orang yang bertobat menerima Kristus. Kemudian api Roh Kudus bergerak ke Eropa Barat dan Utara. Ketika Api itu “jatuh” di Norwegia, gereja dibanjiri orang yang minta untuk dibaptis. Api kebangunan terus berlanjut dan melanda Afrika, India, Cina, Korea, dan Amerika. Ahli sejarah memperkirakan ada sekitar 20 juta orang mengalami dampak dari Kebangunan Rohani di Wales ketika kebangunan itu melanda Inggris.

Pada waktu kegerakan Wales terjadi, ada tiga hamba Tuhan besar di Inggris yaitu G. Campbell Morgan, F.B. Meyer dan Gypsy Smith. Tetapi Tuhan memilih Evan Roberts, hanya seorang penambang batu bara yang tidak bisa berkhotbah. Jika kita melihat lebih dalam lagi tentang kisah hidupnya, ternyata Evan Robert adalah seorang yang suka berdoa. Ia seorang manusia biasa yang sama dengan kita, bahkan tidak menonjol talenta kerohaniannya saat dia dipakai Tuhan. Tetapi ketekunannya berdoa telah membuat Allah melangkah dari surga dan datang ke Wales hingga Kebangunan Rohani yang besar terjadi. Kesetiaannya berdoa telah mengubah kota Wales bahkan sampai ke seluruh negerinya untuk menyembah Yesus Kristus dengan benar. 13 tahun bukan waktu yang sedikit untuk terus berdoa dan membaca Alkitab. Ia telah berhasil membangun mezbah doa bagi Tuhan. Mezbah selalu berbicara tentang pengorbanan, dan Evan Robert telah berhasil mengorbankan waktu dan tenaganya untuk berdoa. Apalagi dia harus bekerja selama 12 jam per hari. Membangun mezbah doa membutuhkan komitmen yang kuat. Tidak banyak orang yang sanggup melakukannya karena mereka salah dalam memilih prioritas hidupnya. Bisa saja Evan Robert mengatakan tidak punya waktu untuk berdoa atau terlalu lelah untuk berdoa dan membaca Alkitab karena ia harus bekerja keras setiap hari sebagai penambang batu bara. Ada banyak orang yang memilih mengemukakan alasan kepada Tuhan untuk tidak mau berdoa atau beribadah kepada-Nya. Perumpamaan orang yang berdalih (Lukas 14:15-24) seolah tidak cukup untuk menyadarkan dan menggerakkan mereka mengikuti kehendak-Nya. Jika saja Evan Robert memilih untuk berdalih dan berargumentasi kepada Tuhan tentang hidupnya dan tidak mau membayar harga untuk Tuhan dengan ketaatan dan ketekunannya, mungkin tidak ada Kebangunan Rohani di Wales. Tetapi rencana Tuhan untuk Wales telah digenapi dan Evan Robert mau dipakai Tuhan untuk menjadi alat-Nya. Doa dapat mengubah keadaan kita. Doa dapat mengubah kota kita, bahkan bangsa kita. Siapa lagi kalau bukan Anda yang melakukannya?

Advertisements