KEKUDUSAN – PERSIAPAN DIRI CALON MEMPELAI KRISTUS

KEKUDUSAN – PERSIAPAN DIRI CALON MEMPELAI KRISTUS
image

Paulus menyatakan di 2 Korintus 11:2, ‘Sebab aku cemburu kepada kamu dengan cemburu ilahi, karena aku telah mempertunangkan kamu kepada satu laki-laki untuk membawa kamu sebagai perawan suci kepada Kristus.’

Ini berarti bahwa semua umat tebusan Kristus itu, atau gereja-Nya, adalah tunangan, atau calon-calon mempelai Kristus. Mereka yang sudah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadinya, berarti sudah lahir baru, semuanya sudah berstatus sebagai tunangan Kristus, yang pada saatnya, kalau memang memenuhi persyaratan khusus yang Bapa tetapkan, sebagai perawan suci – kata Paulus, akan menjadi mempelai Kristus. Dalam masa tunangan inilah umat Tuhan, gereja Tuhan, harus mempersiapkan diri untuk hari kemuliaan itu. ‘Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu pula dipanggilNya. Dan mereka yang dipanggil Nya, mereka itu juga dibenarkanNya. Dan mereka yang dibenarkanNya, mereka itu juga dimuliakanNya.’ (Roma 8:30).

Kita semua, baik pria maupun wanita, mengerti apa arti ungkapan ‘sebagai perawan suci’ dalam persiapan pernikahan itu. Mempelai pria menghendaki mempelai wanitanya sebagai perawan suci dan mempelai wanitapun menghendaki dirinya sebagai perawan suci bagi suaminya. Perawan yang hidup dalam kekudusan.

Apa yang dimaksud dengan kekudusan itu ?

Kekudusan itu bukan suatu status atau posisi. Setiap umat tebusan Kristus itu mempunyai status sebagai umat yang kudus. ‘Dan karena kehendak-Nya inilah kita telah dikuduskan satu kali untuk selama-lamanya oleh persembahan tubuh Yesus Kristus.’ (Ibrani 10:10).

Umat tebusan itu sudah dalam posisi kudus dan sempurna. ‘Sebab oleh satu korban saja Ia telah menyempurnakan untuk selama-lamanya mereka yang Ia kuduskan.’ (Ibrani 10:14).

Posisi umat tebusan itu adalah kudus dan sempurna !

Tetapi dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar umat tebusan Kristus itu sama sekali tidak hidup dalam posisi yang sebenarnya. Mereka tidak hidup dalam kekudusan, bahkan mereka menginjak-injak lagi korban persembahan Kristus yang telah mati di salib, yang sebenarnya sudah menguduskan dan menyempurnakan mereka.

Kekudusan ialah sikap dan tekad hati umat tebusan Kristus untuk mengambil keputusan dan tindakan yang sesuai dengan kehendak Bapa.

Kita tidak melakukan ibadah agar bisa lebih kudus tetapi kita melakukannya karena sudah kudus. Kita tidak bisa menambahkan apa-apa untuk bisa menjadi lebih kudus. Kekudusan yang telah kita peroleh dari Kristus itu sudah sempurna!

Ini sama saja dengan posisi setiap umat tebusan sebagai pemenang bahkan lebih dari pemenang, karena Kristus sudah memenangkan segalanya, dan segala kuasa sudah Bapa berikan kepada-Nya. Dalam hal ini sesungguhnya Kristus hanya menginginkan kita untuk memanifestasikan kemenangan yang sudah Dia peroleh. Kita hanya sebagai wadah, dan manifestasi itu bisa kita nyatakan dengan ketaatan saja. Bukan kita yang melakukan tetapi Kristus melalui Roh Kudus. Tetapi tokh masih banyak dari umat percaya yang kehidupannya senantiasa dikalahkan oleh Iblis dan dunia.

Demikian juga dengan hidup dalam kekudusan. Bukan kita yang melakukan sesuatu untuk menjadi kudus, tetapi kita menyerahkan kehidupan kita kepada Roh Kudus agar kekudusan Kristus termanifestasi dalam kehidupan kita sehingga kita dimampukan untuk menjadi gambar Allah di bumi. Jangan coba-coba untuk hidup kudus dengan kekuatan sendiri. Tidak akan pernah berhasil!

Paulus menyatakan kepada jemaat Galatia agar tidak melakukan perbuatan daging

(percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan,perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya – tidak terhitung hal-hal lain yang tidakdisebutkan). Paulus tidak minta mereka agar memakai kekuatan sendiri, dengan kemauan keras atau disiplin diri, agar tidak melakukan perbuatan daging. Tidak! Paulus tahu, dan kita juga harus tahu, bahwa cara ini tidak akan berhasil. Paulus memberi nasihat bahwa kita akan berhasil kalau,’hiduplah oleh Roh, maka kamu tidak akan menuruti keinginan daging’ (Galatia 5:16). Hanya hidup oleh Roh!

Inilah yang menyebabkan banyak umat Tuhan yang jatuh dalam perbuatan daging yang menjijikkan itu sebab mereka berusaha untuk tidak melakukan dengan usaha sendiri. Sebaliknya kalau kita hidup oleh Roh maka Roh Kuduslah yang akan membimbing dan memampukan kita dengan kasih karunia-Nya sehingga kita tidak akan melakukan perbuatan itu.

Demikian juga dengan buah Roh, yang merupakan manifestasi karakter Kristus. Kita tidak akan bisa memberikan buah Roh (kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah lembutan dan penguasaan diri) dengan usaha sendiri. Buah itu adalah buah Roh Kudus, bukan buah roh kita. Hanya Roh Kudus saja yang bisa memberikan buah itu sedangkan kita hanya sebagai alat, sebagai sarana ketaatan, untuk mengeluarkannya.

Demikian juga dengan kekudusan. Kita tidak akan bisa hidup kudus dengan kemampuan sendiri. Roh Kuduslah yang akan memampukan kita. Kalau kita mau taat, kita akan Tuhan pakai untuk menyatakan kekudusan-Nya. Bukan kekudusan atau perbuatan baik kita. Dan yang mampu hidup kudus hanyalah umat tebusan Kristus, karena hanya mereka saja yang memang sudah dikuduskan oleh pengorbanan Kristus.

Hidup kudus itu bukan sebagai proses meninggalkan dosa sedikit demi sedikit tetapi suatu tindakan tegas, dengan kasih karunia Tuhan, untuk bertekad dan memutuskan semua hubungan dosa sehingga bisa hidup intim dengan Allah.

Hidup dalam kekudusan sebenarnya merupakan awal persekutuan dan keintiman kita dengan Allah. Kita tidak mungkin bisa bersekutu dengan Allah bila kita tidak kudus. Kita tidak mungkin menghadirkan hadirat Allah kalau kita tidak kudus. Kita tidak mungkin memberikan penyembahan yang benar, dalam roh dan kebenaran, kalau kita tidak kudus. Hanya mereka yang kudus saja yang bisa melihat Tuhan.

Ini bukan berarti bahwa kalau kita belum mencapai tingkat kekudusan tertentu kita tidak bisa menyembah Dia. Sekali lagi kita perlu mengetahui bahwa begitu kita ditebus oleh Kristus kita sudah kudus dan tidak bisa lebih kudus lagi. Tetapi untuk bisa intim dengan Tuhan, untuk bisa Tuhan termanifestasi dalam kehidupan kita, kita harus dalam kekudusan. ‘Yaitu orang-orang yang dipilih, sesuai dengan rencana Allah, Bapa kita, dan yang dikuduskan oleh Roh, supaya taat kepada Yesus Kristus dan menerima percikan darah-Nya. Kiranya kasih-karunia dan damai sejahtera makin melimpah atas kamu.’ (1 Petrus 1:2).

Hidup dalam kekudusan itu artinya proses seumur hidup dimana kita terus-menerus

mematikan perbuatan daging, sehingga berangsur-angsur diubahkan menjadi serupa dengan Kristus, bertumbuh di dalam kasih karunia dan mengamalkan kasih kepada Allah dan sesama lebih lagi.

Pengudusan itu (hagiasmos – bahasa Yunani) berarti menjadikan kudus, mentahbiskan, memisahkan dari dunia, dan dijauhkan dari dosa supaya kita dapat mempunyai persekutuan yang erat dengan Allah dan melayani-Nya dengan sukacita. Ini bukan berarti menunjuk ke suatu kesempurnaan yang mutlak, tetapi kebenaran etis tentang tabiat tak bercacat yang ditunjukkan dalam kemurnian, ketaatan, dan keadaan tidak bersalah. Umat percaya, oleh kasih karunia Allah, telah mati bersama Kristus dan dilepaskan dari kuasa dosa, oleh karena itu mereka tidak perlu dan tidak harus berbuat dosa, tetapi bisa hidup berkemenangan

dalam Kristus. Melalui Roh Kuduslah kita dimampukan untuk tidak berbuat dosa meskipun kita belum mencapai tingkat dimana kita bebas dari pencobaan dan kemungkinan untuk tidak berbuat dosa.

Pengudusan, atau hidup kudus, adalah tuntutan untuk semua orang percaya di dalam Kristus sebab tanpa kekudusan tidak seorang pun akan melihat Allah. Umat percaya memperoleh pengudusan oleh iman, oleh persekutuannya dengan Kristus dalam kematian dan kebangkitan-Nya, oleh darah Kristus, oleh firman Tuhan, dan oleh pekerjaan pembaharuan dan pengudusan Roh Kudus dalam hati mereka.

Pengudusan itu merupakan karya Allah dan karya umat-Nya.

Supaya memenuhi kehendak Allah dalam pengudusan, orang percaya harus ikut serta dalam karya pengudusan Roh dengan berhenti berbuat dosa, menyucikan dari semua pencemaran jasmani dan rohani dan memelihara diri dari pencemaran dunia.

Pengudusan yang sejati itu menuntut orang percaya untuk tetap memelihara hubungan intim dengan Kristus, mempunyai persekutuan dengan orang percaya, membiasakan diri untuk berdoa, mentaati firman Tuhan, peka terhadap kehadiran dan pemeliharaan Allah, mengasihi kebenaran, membenci kefasikan, mematikan dosa, tunduk kepada disiplin Allah, tetap taat dan dipenuhi oleh Roh Kudus. Persiapkan diri kita sebagai tunangan Kristus untuk benar-benar menjadi mempelaiNya di hari kemuliaan yang sebentar lagi akan segera tiba.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s